Sunday, May 6, 2012

Cerpen Di Majalah GADIS


Seperti Papa Mengenang Namira
Oleh : Nurhayati Pujiastuti


“Seperti Papamu mengenang Namira, seperti itu pula Mama ingin melakukannya…”
            Namira menarik napas panjang. Panjang sekali. Ia tahu nama Namira yang baru saja disebutkan oleh Mama pasti bukan namanya.
            “Seperti Papamu selalu merasakan kehadirannya dengan hadirnya kamu, seperti itu pula Mama ingin merasakannya…”
            Wajah Mama penuh air mata.
            Ini air mata pertama yang Namira lihat secara langsung. Sebelumnya Mama tidak pernah mengeluarkan air mata. Sebelumnya Mama selalu tersenyum di hadapannya meskipun Namira kerap kali bertanya kenapa mata Mama seringkali sembab setiap kali ke luar dari dalam  kamar.
            “Mama harus jujur…”
            Namira yang memulai pembicaraan. Bicara tentang kenangan dan masa lalu. Bicara tentang perasaannya saat ini yang sedang dilanda cinta. Dan ingin Mama menceritakan tentang masa lalunya.
            Tapi wajah Mama menjadi mendung. Lalu mendung itu tiba-tiba menjadi hujan. Hujan air mata.
            Namira sendiri tidak tahu apa sebabnya. Yang ia tahu pertanyaannya wajar saja. Teman-teman yang lain juga suka cerita kalau mereka sering tanya hal yang sama dengan Mamanya. Dan Mama mereka mau menceritakannya.
            Tapi kenapa Mama menangis?
            “Seperti Papamu  mengenang Namira…”
            Namira menarik napas panjang lagi.
            Namanya Namira. Hanya Namira saja. Tidak ada tambahan yang lain. Entah apa artinya ia pun tidak pernah tahu. Mama selalu menggeleng jika ditanya. Dan selalu bilang  kalau Mama tidak pernah mau  memanggilnya dengan nama itu. Makanya Mama hanya memanggilnya dengan panggilan Dik saja. Atau Nak. Atau Sayang.
            Sedang Papa yang ditanya selalu tersenyum simpul sambil menghelus-helus rambutnya.
            Sebelumnya Namira tidak mau banyak bertanya. Tidak perlu dan tidak penting untuknya.
            “Namira namanya…”
            “Jadi Namira itu siapa?” tanya Namira akhirnya.
            Rasanya ia sudah cukup besar  untuk mengetahui sebuah rahasia. Kalaupun itu adalah sebuah rahasia.
            Mama memandanginya.
            Ah wajah Mama kelihatan layu sekali. Mata penuh air mata. Bibir yang pucat.
            Yang Namira tahu Mama memang tidak pernah berdandan di rumah. Tidak juga kalau ke luar rumah. Tidak suka kata Mama. Tidak mau. Sudah tua jangan aneh-aneh. Padahal kalau saja Mama mau sedikit berdandan pasti wajah Mama lebih cantik ketimbang bintang sinetron.
            Namira pernah lihat kok rambut Mama yang selalu digulung itu kalau dibiarkan terurai bagus sekali. Warnanya kecoklatan. Coklat asli bukan hasil semir rambut. Ikal bergelombang. Namira sendiri mewarisi rambut seperti Mama. Dan banyak teman-teman yang memujinya.
            “Jadi Namira itu siapa, Ma?”
            Mama menghembuskan napasnya. Memandang pada Namira.
            “Aku tidak boleh tahu?”
            Mama kelihatan seperti berpikir. Lalu menggeleng. “Biarlah Papamu yang menjawab.”
            “Jadi Mama tidak mau?”
            Mama menggeleng. “Seperti Papamu ingin mengenang Namira maka Mama pun ingin mengenang apa yang seharusnya Mama kenang,” ujar Mama sambil berjalan meninggalkan Namira.
            Namira tahu ia tidak boleh banyak bertanya lagi.
**
            “Kenapa tanya soal Namira?”
            Papa baru pulang malam sekali. Pintu kamar sudah terkunci. Kedengaran beberapa kali Papa mengetuk tapi Mama tidak membukakan. Mungkin Mama sudah tertidur dengan lelapnya.
            “Kenapa tanya soal Namira?” Papa meneguk  kopi yang Namira buatkan. “Kamu seperti dia…”
            “Namira?” tanya Namira cepat.
            Papa mengangguk.
            “Jadi Namira itu ada?”
            Papa meneguk kopinya lagi. “Jadi Namira itu memang ada…”
            “Pantas Mama cemburu…”
            “Alah…, Mamamu memang selalu cemburu.”
            “Ya kalau Papa selalu ingat sama pacar lama Papa pasti Mama bisa cemburu. Apalagi Papa kasih nama aku persis seperti itu…”
            “Bukan Papa yang kasih nama kamu,” Papa mencubit pipi Namira. “Eyangmu yang kasih nama. Karena Namira begitu sempurnanya…”
            “Kasihan Mama…”
            Papa menepuk bahu Namira. “Biarkan Mama cemburu. Biar saja. Nanti Mamamu juga sadar sendiri bahwa memang Namira itu pantas untuk dikenang.”
            Namira sungguh tidak mengerti.
**
            “Ajarkan Mamamu untuk berdandan,” bisik tante Ros pada Namira. Pulang sekolah Namira langsung ke sana. Namira tidak tahan lihat Papa dan Mama saling mendiamkan.
            Papa selalu berangkat kerja pagi-pagi sekali dan baru pulang di malam hari. Sedang Mama baru ke luar kamar ketika Papa pergi dan sudah mengunci kamarnya ketika Papa belum pulang.
            “Apa karena Namira suka berdandan?”
            Tante Ros menggeleng. “Tante kurang tahu.”
            “Apa Namira begitu cantiknya?”
            Tante Ros menggeleng lagi. “Tante juga tidak tahu.”
            “Jadi Tante tidak pernah tahu siapa itu Namira?”
            Tante Ros menghembuskan napasnya. “Ajak Mamamu bicara. Dan ajarkan menjadi lebih baik lagi….”
            “Tapi kalau Papa mengenang Namira pacarnya dulu itu, Mama juga akan mengenang pacarnya yang dulu. Heran, kalau masih ingat sama pacarnya kok mereka mau menikah ya, Tante? Kalau mereka berdua gak nikah kan aku gak bingung seperti sekarang ini?”
            Tante Ros menepuk pipi Namira. “Yang itu Tante juga tidak tahu.”
            “Tapi masak Tante tidak tahu terus?”
            Tante Ros diam.
            “Kata Papa namaku itu yang kasih Eyang.”
            Tante Ros diam.
            “Tapi aku lupa Eyang dari Papa atau dari Mama, ya?”
            “Sudah.., ajarkan Mama untuk berubah. Maka Papamu pasti akan berhenti mengenang Namira…”
            Namira bingung. Namira hanya  menganggukkan kepalanya saja.
**
            Tapi di rumah, lipstik yang diberikan Tante Ros pada Namira langsung Namira berikan pada Mama. Dan Mama menggeleng tegas.
            “Mama harus berdandan…”
            “John tidak pernah suka Mama berdandan,” Mama menggeleng keras-keras.
            “Tapi Papamu tidak mau tahu itu. Namira sendiri tidak pernah berdandan lalu buat apa aku harus berdandan. Mama tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Namira di hati Papamu…”
            Mama mulai menangis.
            Namira tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
            “Lebih baik Mama mengenang John saja..”
            Lebih baik mungkin Namira bicara langsung pada Papa saja.
**
            “Aku mau Papa bicara soal Namira!”
            Mata Namira sebenarnya sudah mengantuk. Tapi Namira menunggu Papa pulang. Sudah malam. Seharusnya ia sudah terlelap dalam tidurnya dan bermimpi.
            “Aku mau Papa bicara soal Namira! Dan Mama juga berhenti bicara soal John?
            Kening Papa  membentuk kerutan. Lalu tertawa. “Ah.., John gundul yang culun itu yang masih dikenang Mamamu? Papa gak mungkin cemburu…”
            “Papa…,” mata Namira memandang tajam pada Papanya. “Kalau hanya masa lalu Papa dan Mama jadi seperti ini lebih baik Papa menceraikan Mama. Jadi aku tidak bingung seperti sekarang ini…”
            Namira tahu Papa pasti kaget mendengar kalimatnya. Tapi ia juga kaget. Kaget sendiri. Tapi kalimat itu benar-benar ke luar dari hatinya. Namira sudah capek melihat rumah tangga Papa dan Mamanya.
            “Kenapa kamu bicara seperti itu?” Papa kelihatan terkejut.
            “Karena Namira ingin Papa dan Mama tidak bertengkar terus…”
            “Kami tidak pernah bertengkar…”
            “Apa bedanya bertengkar dengan saling diam dan tidak menegur satu sama lain?”
            Papa diam.
            “Papa harus bicara…”
            Papa mengangguk. Pelan sekali.
**
            “Namanya Namira. Baik, pintar, cantik. Papa mengenalnya sejak kami sama-sama kecil dulu. Seperti Mamamu mengenang John.”
            Pandangan mata Papa menerawang.
            “Setiap orang yang mengenalnya pasti menyukainya. Namira begitu sempurna. Ia cantik dan baik. Ia sopan dan tahu menjaga perasaan orang lain.”
            “Dan Papa mencintainya?”
            “Dan Papa  mencintainya sepenuh hati,” ujar Papa menganggukkan kepalanya. “John juga mencintainya. Hanya dia malu-malu mengakuinya.”
            “Tapi itu kan masa lalu. Papa sudah menikah dan Namira pasti juga sudah menikah dengan orang lain. Kenapa jadi ribut sekarang ini?”
            Papa diam.
            “Bukan begitu, Pa…”
            “Bukan begitu, Namira. Bukan begitu cerita yang selanjutnya.”
            “Lalu bagaimana?”
            “Lalu Namira yang sempurna itu mengatakan pada Papa untuk tidak menerima cinta Papa karena takut ada yang terluka.”
            “Jadi Papa ditolak?”
            Papa mengangguk. “Tapi Papa tahu ada yang ia sembunyikan. Karena tidak ada yang diterima cintanya. Tidak Papa. Tidak juga John dan tidak juga puluhan lelaki lainnya.”
            “Memangnya kenapa?”
            Papa menghembuskan napasnya. Mengusap wajahnya seperti ingin mengembalikan ingatannya dari masa lalu.
            “Memangnya kenapa, Pa?”
            “Ketika musim hujan tiba, kami semua terkena hujan air mata.”
            “Papa kayak seniman saja. Pakai puisi…,” Namira tertawa.
            “Namira dipanggilNYA persis ketika hujan turun dengan lebatnya. Dokter tidak bisa menyembuhkan sakit kanker darahnya. Papa menangis. Semua menangis. Eyangmu juga menangis.”
            “Maksud Papa…”
            “Mungkin kamu  harus tahu sekarang ini…”
            “Maksud Papa…”
            “Namira itu kakaknya Mama…”
            Namira diam.
            Sungguh ia terkejut luar biasa.
**
            “Seperti Papamu terus mengenang Namira, seperti itu pula Mama akan  mengenang John…”
            Namira hanya tersenyum memandangi Mama.
            Papa sudah cerita semuanya. Termasuk John yang patah hati dan akhirnya sepeda motornya masuk jurang lalu John ditemukan mati.
            “Seperti Papamu terus mengenang Namira…”
            Namira tidak mau berkomentar lagi.
            Papa dan Mama mungkin butuh waktu untuk menyadari bahwa mereka hidup di dunia nyata sekarang ini. Bukan di masa lalu.
**

           
           

4 comments:

Rahmadini Atika said...

Wooooow, mbak Nurhayati keren banget karyanyaaaa.... salam kenal Mbak, saya Atika Rahmadini, mau dooong diajarin nulis sama Mbak Nurhayati, boleh minta FB mbak Nurhayati? salam kenal Mbak :)
Atika Rahmadini (Yogyakarta - UMY)

Rahmadini Atika said...

woooow, keren bgt mbak Nurhayati karyanya.... perkenalkan aku Atika Rahmadini dari UMY, mau dong diajarin Mbak Nurhayati ttg kepenulisan XD Salam kenal

waroeng-koe said...

Atika, FB saya Nurhayati Pujiastuti :)
Status di FB saya banyak berisi tentang informasi seputaran dunia menulis.

Agung Dospi said...

Mau nanya, apakah ada pemberitahuan dari pihak majalah gadis jika cerpen kita akan diterbitkan? Trims, mbak. :)